Budaya

Rinjani: Alam, Budaya, dan Peradaban

Hero Image

oleh Muhammad Ihwan (Kepala Dinas Kebudayaan NTB)


Perpanjangan status UNESCO Global Geopark untuk Rinjani Lombok UNESCO Global Geopark bukan sekadar kabar baik. Ia adalah peristiwa kebudayaan sebuah penegasan bahwa NTB tidak hanya indah, tetapi juga bermakna di mata dunia.

Di kaki Gunung Rinjani, lanskap bukan sekadar panorama. Ia adalah teks panjang yang ditulis oleh alam dan dibaca oleh manusia melalui tradisi. Dari ritual adat, sistem pertanian, hingga kearifan menjaga hutan, semuanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Inilah yang dibaca oleh dunia ketika UNESCO memutuskan: Rinjani layak dipertahankan sebagai bagian dari jaringan geopark global. Namun, keputusan itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari kerja panjang dari upaya menjaga, mendidik, dan memberdayakan. Di sinilah peran Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi penting dan strategis.

Kebudayaan sebagai Roh Geopark

Geopark sering dipahami sebatas geologi: batuan, gunung, dan lanskap. Padahal, UNESCO menetapkan tiga pilar utama: konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat. Ketiganya tidak akan hidup tanpa kebudayaan.

Dinas Kebudayaan NTB memiliki ruang besar untuk memastikan bahwa geopark tidak kehilangan jiwanya. Sebab di balik setiap jalur pendakian Rinjani, ada cerita rakyat. Di balik setiap desa penyangga, ada tradisi yang diwariskan turun-temurun. Dan di balik setiap produk lokal, ada identitas yang membedakan NTB dari daerah lain. Perpanjangan status geopark menjadi pengingat: bahwa kebudayaan bukan pelengkap, melainkan fondasi.

Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhammad Ihwan (kanan) saat berdiskusi dengan manajer Geopark Rinjani terkait mengenalkan kekayaan budaya melalui berbagai medium

Dari Pelestarian ke Pemberdayaan

Peran Dinas Kebudayaan tidak berhenti pada menjaga. Ia harus melangkah lebih jauh menjadikan kebudayaan sebagai penggerak ekonomi dan kesejahteraan. Bayangkan desa-desa di sekitar Rinjani tidak hanya menjadi penonton arus wisata, tetapi menjadi pelaku utama. Ritual adat dikemas sebagai atraksi edukatif, kerajinan lokal naik kelas menjadi produk global, dan narasi budaya menjadi daya tarik yang membuat wisatawan tinggal lebih lama.

Inilah yang sejalan dengan semangat “NTB Makmur Mendunia”: kebudayaan menjadi jalan menuju kesejahteraan.

Syarat UNESCO, Agenda Daerah

UNESCO menetapkan syarat yang ketat untuk perpanjangan geopark: konservasi yang konsisten, edukasi yang hidup, pemberdayaan masyarakat, serta manajemen yang kuat dan kolaboratif. Semua ini, jika ditarik ke dalam konteks NTB, adalah agenda lintas sektor dan Dinas Kebudayaan berada di simpulnya. Ia menjadi jembatan antara alam dan manusia, antara masa lalu dan masa depan, antara identitas lokal dan panggung global.

para penari tari tandang mendet ikut dalam peresmian Pusat Informasi Geopark Rinjani

Momentum yang Tidak Boleh Terlewat

Perpanjangan status Geopark Rinjani adalah peluang. Ia membuka pintu kerja sama internasional, memperkuat posisi NTB dalam jejaring global, bahkan memberi akses pada dukungan lembaga seperti World Bank dan berbagai mitra pembangunan. Namun lebih dari itu, ini adalah momentum untuk melakukan lompatan: menjadikan kebudayaan sebagai strategi pembangunan, bukan sekadar sektor.

Menjaga yang Diakui Dunia

Pada akhirnya, pengakuan dunia hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga bahkan meningkatkan apa yang sudah diakui. Di sinilah Dinas Kebudayaan NTB memiliki peran historis: memastikan bahwa Rinjani tidak hanya tetap indah, tetapi juga tetap bermakna. Bahwa setiap jejak wisatawan yang datang, juga menjadi jejak pembelajaran tentang bagaimana manusia dan alam bisa hidup berdampingan.

Karena di lereng Rinjani, dunia tidak hanya melihat gunung. Dunia melihat peradaban. Dan NTB, melalui kebudayaannya, sedang menuliskan cerita itu untuk dunia.

Artikel Favorit Untuk Anda