Berdaya

Menenun Ketangguhan di Tanah Cincin Api: Catatan dari Hari Kesiapsiagaan Bencana di NTB

Hero Image

Di bawah rimbun pohon pelindung sepanjang Jalan Udayana, Mataram, keriuhan Minggu pagi itu terasa berbeda. Bukan sekadar olahraga rutin di kawasan Car Free Day, ratusan orang berkumpul dengan satu semangat yang sama: melawan lupa bahwa mereka hidup di atas tanah yang rawan guncangan dan amukan alam.

Nusa Tenggara Barat (NTB) bukanlah wilayah yang asing dengan bencana. Dari gempa bumi yang meluluhlantakkan ribuan rumah tahun 2018 silam, hingga ancaman erupsi gunung api dan banjir yang kerap datang tanpa permisi. Kesadaran akan risiko inilah yang menjadi ruh dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) pada 26 April 2026.

Gubernur NTB, H. Lalu Muhammad Iqbal, berdiri di tengah kerumunan, mengingatkan kembali bahwa meski manusia tidak bisa menjinakkan kekuatan alam, mereka bisa memitigasi dampak yang ditimbulkan.

"Kesiapsiagaan adalah investasi keselamatan. Kita tidak bisa menghentikan bencana, tetapi dengan pengetahuan dan latihan, kita mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa," ungkapnya dengan nada tegas.

Bagi NTB, kesiapsiagaan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan hidup. Pendekatan yang dilakukan kini mulai bergeser, dari sekadar respons darurat menuju pembangunan budaya siaga yang berkelanjutan.

Salah satu kegiatan adalah peluncuran platform digital Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) SiAGA NTB. Di era informasi, kecepatan data adalah kunci. Sistem ini dirancang untuk memangkas jeda waktu antara peringatan dini dan tindakan masyarakat di lapangan.

"Informasi yang tepat waktu dapat menyelamatkan nyawa," ujar Sadimin, Kepala BPBD NTB. Namun, ia menyadari bahwa teknologi hanyalah alat. Kekuatan utamanya tetap ada pada manusianya.

Melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Desa Berdaya, pemerintah mencoba menyentuh akar rumput. Di desa-desa, warga diajak memetakan risiko mereka sendiri, membentuk relawan lokal, hingga menyusun rencana kontinjensi yang spesifik dengan kearifan lokal masing-masing.

Gubernur NTB saat kegiatan HKB 2026

Ketangguhan di Pulau-Pulau Kecil

Bicara NTB tentu tak lepas dari gugusan pulau kecilnya yang eksotis namun rentan. Perubahan iklim dan kenaikan air laut kian mengancam pulau-pulau rendah. Tahun ini, penguatan kapasitas difokuskan pada kajian ketangguhan pulau kecil. Lokasi-lokasi vital seperti Gili Trawangan, Meno, dan Air di Lombok, serta Pulau Moyo, Medang, dan Pulau Bungin di Sumbawa menjadi laboratorium sosial. Di sana, aspek lingkungan dan infrastruktur dipadukan untuk memastikan bahwa kemajuan pariwisata tidak mengabaikan keselamatan ekosistem dan manusia di dalamnya.

Peringatan HKB tahun ini juga memberikan ruang bagi mereka yang sering terlupakan saat alarm bencana berbunyi: penyandang disabilitas. Melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) BPBD NTB, ditekankan bahwa standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan haruslah inklusif.

"Kita harus memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal. Penyandang disabilitas memiliki kebutuhan khusus yang harus menjadi tanggung jawab bersama," kata Sri Sukarni dari ULD BPBD NTB.

Di sudut lain, pameran literasi kebencanaan dipenuhi anak-anak. Melalui komik, poster, dan permainan interaktif, pesan-pesan penyelamatan diri disampaikan tanpa kesan menakuti. Membangun memori kolektif tentang bencana sejak dini dianggap lebih efektif daripada sekadar simulasi sekali setahun.

Kegiatan ini ditutup dengan aksi sosial seperti donor darah dan pemeriksaan kesehatan, sebuah pengingat bahwa fisik yang sehat adalah modal awal untuk bertahan hidup saat situasi darurat menghantam.

Bagi masyarakat NTB, 26 April bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat tahunan bahwa hidup berdampingan dengan bencana membutuhkan napas panjang kolaborasi antara teknologi, kebijakan pemerintah, dan ketangguhan hati warga yang tinggal di garis depan cincin api. (elmo)

Artikel Favorit Untuk Anda