Menjaga Sangkareang: Tentang “Sawah” di Atas Awan dan Langkah yang Sering Meremehkan
Angin dingin menembus sela-sela serat jaket saat jemari melepaskan genggaman pada pasak tenda. Di bawah naungan bayang-bayang kegagahan Gunung Rinjani, berdiri sebuah puncakan perkasa yang kian populer di kalangan pencinta ketinggian: Sangkareang. Terletak di kawasan Tetebatu, Lombok Timur, jalur pendakian ini menyajikan hamparan savana hijau, bentang alam yang megah, serta pendar matahari terbit yang memikat mata.
Namun, di balik keindahan panorama yang disuguhkan, ada narasi mendalam yang jarang tertuang dalam foto-foto estetis di media sosial. Pada tanggal 1–2 Agustus lalu, kami melangkah menyusuri jalur pendakian Tetebatu ini—sebuah perjalanan yang tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga membukakan mata tentang dinamika, etika, dan napas hidup orang-orang yang menggantungkan takdirnya pada rimba Rinjani.
Bagi khalayak ramai, nama Rinjani mungkin selalu diidentikkan dengan Sembalun atau Senaru. Jalur Tetebatu sendiri tergolong sebagai salah satu gerbang pendakian yang relatif anyar. Diresmikan secara resmi oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada Desember 2020—bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Nusa Tenggara Barat—jalur ini mulai beroperasi secara penuh dan terintegrasi ke dalam sistem pendaftaran digital eRinjani pada tahun 2021.
Hadirnya jalur Tetebatu membawa warna baru. Puncaknya, Sangkareang, menawarkan sudut pandang fantastis ke arah Danau Segara Anak dan Kaldera Rinjani dari sisi selatan. Bentang jalurnya kaya akan variasi: dari kebun-kebun warga, hutan tropis yang lebat dan lembap, hingga vegetasi montana yang bertahap menipis menjelang ketinggian.
Dalam perjalanan dua hari tersebut, kami menyaksikan begitu beragamnya profil manusia yang mengadu langkah di jalur ini. Ada wisatawan mancanegara yang melangkah santai diiringi tim guide dan porter berpengalaman, hingga rombongan anak-anak muda lokal yang mencoba peruntungan dengan metode tektok—mendaki cepat tanpa menginap. Sayangnya, tidak sedikit dari deretan anak muda ini yang naik hanya berbekal nekat. Tanpa persiapan fisik, pengetahuan navigasi, serta perbekalan air yang memadai, tak jarang dari mereka harus menyerah dan berbalik arah sebelum menginjakkan kaki di puncak. Bahkan, beberapa di antaranya tersengal-sengal menahan haus, nyaris mengalami dehidrasi berat di tengah jalur.
Malam jatuh di pos perkemahan. Di tengah gemertak kayu bakar dan hawa dingin yang menusuk tulang, kami duduk melingkar bersama para porter dan guide. Cangkir kopi hangat berpindah tangan, membuka ruang diskusi yang mengalir jujur dan tanpa sekat.
Bagi para porter dan pandu lokal, fenomena pendaki "modal nekat" bukanlah pemandangan baru. Mereka sudah terlalu sering menyaksikan dinamika tersebut. Salah seorang porter senior berkisah tentang pengalamannya berhadapan dengan rombongan pendaki muda.
"Setelah makan, sampah-sampahnya dibiarkan begitu saja berhamburan. Saat ditegur dan diminta untuk dipungut lalu dibawa turun atau setidaknya dibakar di lokasi jika memang malas membawanya mereka justru meremehkan nasihat tersebut," tuturnya dengan nada tenang namun menyimpan kekecewaan.
Tak tinggal diam melihat keangkuhan itu, sang porter memilih mengambil langkah tegas. Ia secara diam-diam menghubungi petugas Balai TNGR di bawah, melaporkan bahwa ada sekelompok pendaki yang menimbun sampah di area atas dan disinyalir kuat merupakan pendaki ilegal tanpa izin resmi (simaksi). Dugaan itu tepat. Begitu rombongan tersebut tiba di pos bawah, petugas TNGR sudah berjaga, siap memberikan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku.
Jalur Sangkareang cukup berat dengan jalur penuh tanjakan sejak pintu masuk hingga ke puncak
Labirin Jalur Tikus dan Ancaman Keselamatan
Kisah penindakan tersebut mengurai salah satu benang kusut utama di jalur Sangkareang: maraknya pendaki ilegal dan bahaya jalur tidak resmi.
Secara administratif, jalur pendakian Sangkareang memiliki pintu masuk resmi. Pos registrasi dan pembayaran tiket berlokasi di Ulem-Ulem, dilengkapi pula dengan pos penyeimbang berupa shelter di Perempungan. Dua gerbang ini merupakan jalur legal yang terpantau oleh sistem pendaftaran eRinjani.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan tantangan geografis yang tidak mudah. Kawasan Tetebatu dikelilingi oleh ladang dan kebun-kebun warga yang amat luas, menciptakan puluhan "jalur tikus" yang melintasi perimeter taman nasional. Jalur-jalur tidak resmi ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin menghindari biaya simaksi atau sekadar enggan mengikuti Prosedur Operasional Standar (SOP) pendakian.
Pendaki ilegal ini menjadi titik buta (blind spot) dalam tata kelola kawasan. Karena identitas dan keberadaan mereka tidak terdaftar di dalam database eRinjani, prosedur keselamatan menjadi sangat rentan. Saat terjadi marabahaya—seperti cidera berat, jatuh ke jurang, atau tersesat—tim SAR dan petugas TNGR akan kesulitan melakukan tindakan penyelamatan cepat.
"Pernah ada kejadian pendaki hilang atau celaka. Ketika keluarga atau orang tua mencari dan kami cek di dalam sistem registrasi, nama mereka sama sekali tidak ada. Kejadian seperti ini membuat semua pihak serba sulit," ungkap salah seorang pemandu.
Kerentanan ini terbukti nyata saat perjalanan turun kami di jalur menuju Pos 1. Rombongan kami berpapasan dengan sekumpulan remaja yang naik pada Sabtu malam. Mereka tiba di camping ground pada tengah malam, lalu mendesak tubuh untuk langsung melakukan summit attack ke puncak Sangkareang tanpa istirahat memadai.
Ketika kami temui di jalur turun, kondisi mereka sungguh memprihatinkan. Mereka terkapar di pinggir semak-semak dalam keadaan kelaparan dan kehausan ekstrim. Rombongan kami lantas membagikan sisa bekal makanan dan pasokan air minum yang kami miliki. Saat diajak bicara dengan suara lirih, mereka mengaku bahwa ini adalah pengalaman pertama mereka menjajal Sangkareang. Dalam benak mereka, karakteristik dan tingkat kesulitan Sangkareang disangka sama seperti bukit-bukit di sekitarnya, seperti Bukit Pergasingan atau Bukit Anak Dara di Sembalun. Sebuah kekeliruan fatal yang nyaris merenggut keselamatan jiwa mereka.

Mendaki saat bulan purnama bisa menjadi pilihan terbaik
Sawah di Atas Awan
Di antara deretan cerita malam itu, sesosok figur porter sepuh menarik perhatian kami. Warga lokal menyapa atau memanggilnya dengan sebutan Amaq. Sehari-harinya, tatkala tidak ada jadwal memandu atau membawa barang pendaki, dia menyusuri pinggiran hutan untuk mencari rumput segar demi pakan sapi peliharaannya.
Saat bertugas sebagai porter, dia memegang peran vital. Ia bertanggung jawab mengangkut beban logistik yang berat, mengambil air bersih dari mata air tersembunyi, hingga memastikan area perkemahan kembali bersih sebelum rombongan pulang. Dia memiliki prinsip yang amat teguh soal kelestarian lingkungan. Ia secara aktif melarang pendaki membakar sampah plastik sembarangan.
"Jangan semua sampah dibakar di atas. Bawa turun sebagian besar sampah plastik itu karena nanti di bawah akan diperiksa oleh petugas," tegurnya lembut namun pasti.
Bahkan, dedikasinya tidak berhenti pada rombongan yang dibawanya sendiri. Jemari keriputnya tanpa ragu memunguti sampah-sampah liar yang ditinggalkan oleh rombongan pendaki lain di sepanjang jalur dan area kemah.
Kenapa seorang porter yang sudah sepuh begitu peduli dan telaten memungut sampah serta memelototi keberadaan pendaki ilegal?
Jawabannya sederhana, namun menusuk sanubari: dia tidak memiliki tanah sawah di desa.
Baginya dan puluhan warga lokal lainnya, Gunung Sangkareang adalah "sawah" mereka. Bentang rimba dan puncak menjulang itulah yang memberi mereka nafkah hidup. Dari aktivitas jasa membawa barang pendaki, dia mampu mengantongi pendapatan rutin saat musim pendakian ramai. Dalam satu bulan, ia bisa naik-turun jalur Sangkareang sebanyak 3 hingga 4 kali.
Sebagaimana filosofi seorang petani: Sawah hanya akan memberikan hasil panen yang melimpah dan berkualitas jika dijaga, dirawat, dan disayangi. Begitu pula dengan Sangkareang.
Ketakutan terbesar yang menghantui para porter senior di Tetebatu bukanlah beban berat di pundak atau dinginnya cuaca malam. Ketakutan terbesar mereka adalah jika Gunung Sangkareang ditutup oleh pihak berwenang.
Penutupan kawasan pendakian bukanlah gertakan belaka. Mereka belajar dari sejarah gersang di lokasi lain. Kami sempat mendiskusikan bagaimana Bukit Pergasingan dulu sempat ditutup sementara akibat akumulasi masalah sampah yang tak terkendali. Amaq juga mengenang kembali kepedihan masa lalu ketika insiden kecelakaan fatal yang menimpa wisatawan asing (seperti kasus kecelakaan kecelakaan Juliana) berdampak pada penutupan total seluruh jalur pendakian Rinjani demi evaluasi keselamatan.
Ketika gunung ditutup, "sawah" mereka berhenti berproduksi. Dapur rumah tangga mereka terancam tidak ngebul, dan mata pencaharian utama lenyap seketika.
Puncak Rinjani dilihat dari punggung pelawangan Sangkareang
Ketakutan akan kehilangan napas kehidupan itulah yang bertransformasi menjadi naluri protektif yang luar biasa. Tanpa disuruh oleh SK Jabatan atau gaji bulanan dari pemerintah, para porter ini secara sukarela menjelma menjadi Penjaga Garda Depan Rinjani.
- Mereka rela membungkukkan badan, memunguti bungkus mie instan dan botol plastik yang dibuang sembarangan oleh pendaki tak bertanggung jawab.
- Mereka berani menegur rombongan pendaki ilegal yang membahayakan diri sendiri dan merusak lingkungan.
- Mereka bersinergi dengan petugas Balai TNGR untuk memastikan tata tertib pendakian tetap teratur.
Semua itu mereka lakukan demi satu tujuan mendasar: agar Sangkareang tetap bersih, tetap aman, dan tetap dibuka.
Mendaki gunung pada hakikatnya bukan sekadar pembuktian ketahanan fisik, penaklukan puncak, atau sekadar perburuan konten visual di media sosial. Setiap kali kaki kita melangkah melintasi kawasan konservasi seperti Sangkareang, kita sedang bertamu ke "rumah" sekaligus "sawah" milik masyarakat lokal.
Langkah nekat tanpa persiapan, egoisme membuang sampah sembarangan, serta perilaku ilegal menghindari registrasi resmi adalah bentuk ketidakhormatan mendasar—baik terhadap alam maupun terhadap warga lokal yang menggantungkan hidupnya di sana.
Sangkareang di Tetebatu telah membuktikan pesonanya sebagai salah satu permata baru di kaki Rinjani. Namun, keindahan tersebut amat rapuh jika tidak diimbangi oleh kesadaran ekologis dari setiap manusia yang melintasinya. Berterima kasihlah kepada sosok-sosok seperti Amaq. Sebab, tanpa ketulusan tangan-tangan renta yang mau memungut sisa-sisa keserakahan kita, mungkin kita tak lagi bisa menikmati megahnya lanskap Sangkareang di masa depan.
Artikel Favorit Untuk Anda
Lebaran Topat: Momen Membayar Nazar Masyarakat Lombok
Rumah Aspirasi di Lombok Timur, Buka Ruang Aduan untuk Seluruh Rakyat