ANAK DARA, INDAH TAPI BANYAK SAMPAH
Ini adalah pendakian pertama saya di tahun 2026. Mendaki Bukit Anak Dara, 1.923 MDPL. Pendakian yang seharusnya menyenangkan berubah jadi membosankan. Fisik yang tidak prima, dan sampah di sepanjang jalan. Alamak.
Bakti, kawan saya seorang jurnalis di Lombok Timur mengomel sepanjang jalan begitu memasuki jalan desa menuju pintu pendakian Bukit Anak Dara. Menurutnya, sejak pariwisata Sembalun berkembang 10 tahun silam, kondisi jalan itu tidak berubah. Malah bisa dibilang semakin parah. Padahal selama 10 tahun ini, banyak pemasukan dari geliat pariwisata Sembalun. Pendakian ke bukit-bukit tidak gratis. Ada tiket Rp 10 ribu untuk wisatawan nusantara dan Rp 25 ribu untuk wisatawan mancanegara. Selain itu ada juga parkir motor yang dikelola. Baik parkir dan bukit itu memang dikelola kelompok, bukan oleh desa. Dalam hati saya,mungkin ini yang membuat desa enggan untuk memuluskan jalur itu.
Di perjalanan kami bertemu petani yang membawa rumput. Dia ngomel. Saya mendengar dia menyebut nama gubernur. Lah, apa hubungannya gubernur dengan jalan desa yang kondisinya tidak terurus itu. Bukan mau membela gubernur, tapi kadang publik juga berlebihan. Mana yang menjadi urusan desa, kabupaten, provinsi, pemerintah pusat. Jalan desa, jalan tani saya rasa bisa menjadi kewenangan desa dan kabupaten. Oh iya, selama ini selalu ada anggota DPRD dari Sembalun. Kalau seandainya warga mendatangi rumah dewan mereka itu, minta agar semua dana aspirasi atau pokok pikiran (pokirnya) diarahkan ke jalan desa dan jalan tani, mungkin selama 5 tahun jabatannya semua jalan desa akan mulus.
Pada pendakian kami pada Sabtu, 4 April 2026 itu, angin kencang menyapu lembah Sembalun. Para petani bergegas ke sawah dan kebun. Para pendaki bergegas menuju pintu masu pendakian. Di jalur hutan sebelum Pusuk Sembalun, pintu pendakian bukit juga tampak ramai. Itu terlihat dari kendaraan yang parkir.
Di bawah kaki Gunung Rinjani yang megah, berdiri sebuah benteng alam yang kini menjadi primadona baru bagi para pendaki FOMO, Bukit Anak Dara, sebuah titik pandang setinggi 1.923 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang menawarkan kemewahan visual (saya suka Tanjakan Cinta), namun sekaligus menyimpan sisi kelam dari geliat pariwisata massal.

Tanjakan Cinta spot foto yang kadang harus rela antre
Tanjakan "Cinta" yang Menguji Nafas
Baru saja melangkah beberapa ratus meter dari gerbang registrasi, sapaan ramah hutan segera berganti dengan kemiringan yang menuntut kerja keras otot betis. Para pendaki sering menyebut jalur awal ini sebagai ujian mental. Tanah kering saat kemarau akan berubah menjadi debu halus yang menyesakkan, sementara saat musim hujan, ia berubah menjadi medan licin yang bisa menjatuhkan siapa saja yang kurang waspada. Di beberapa titik jalur yang longsor, pengelola membuat tangga kayu dan memasang tali. Cocok bagi saya sebagai pendaki manja. Hehehe.
Bukit Anak Dara memang unik. Ia tidak memiliki banyak bonus, istilah pendaki untuk jalur datar. Dari pos satu hingga menuju puncak, mata kita dipaksa melihat ke atas, pada jalur yang terus menanjak tajam di antara pepohonan. Di Pos 2 kita disuguhkan pemandangan ilalang yang hijau di saat musim hujan, dan kadang terbakar pada musim kemarau.
Tantangan saat kami mendaki adalah angin. Sebagai bukit yang berdiri cukup terbuka, Anak Dara terpapar langsung oleh angin kencang yang bertiup dari Selat Alas. Di beberapa titik sempit, pendaki harus benar-benar menjaga keseimbangan agar tidak terhempas ke sisi jurang. Apalagi saya yang mengoperasikan drone, beberapa kali peringatan angin terlalu kencang.
Hamparan Permadani di Atas Awan
Namun, segala peluh dan nafas yang tersengal itu seolah terbayar lunas begitu kaki menginjakkan kaki di kawasan puncak. Jika Rinjani adalah sang raja, maka Anak Dara adalah putri yang menjaga keindahan di kakinya.
Dari sini, lanskap Desa Sembalun terlihat seperti kotak-kotak catur yang berwarna-warni. Sawah-sawah penduduk yang ditanami bawang, kentang, dan stroberi membentuk mosaik hijau dan cokelat yang sangat rapi. Di sisi timur, jika cuaca cerah, biru laut Selat Alas membentang luas dengan bayang-bayang Pulau Sumbawa di kejauhan. Puncaknya, Gunung Tambora, terkadang menampakkan diri dengan malu-malu di balik kabut tebal.
Momen yang paling dinanti tentu saja adalah golden hour. Ketika sang surya mulai turun ke peraduan, langit Sembalun berubah menjadi kanvas raksasa dengan gradasi warna jingga, ungu, dan merah muda. Di sisi lain, bayangan raksasa Gunung Rinjani seolah memayungi seluruh lembah. Saat malam tiba, lampu-lampu desa di bawah sana berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, bersaing dengan hamparan milky way yang terlihat jelas tanpa polusi cahaya.
Namun, di tengah kemegahan itu, ada pemandangan yang menyayat hati bagi siapa saja yang mencintai kelestarian alam. Di balik semak-semak ilalang, di sela-sela bebatuan puncak, dan di sekitar area perkemahan, "jejak" manusia tertinggal dengan cara yang salah.
Botol plastik bekas air mineral, bungkus mi instan, puntung rokok, hingga tisu basah yang tak terurai menjadi pemandangan yang jamak ditemui. Fenomena ini menjadi ironi para pendaki datang untuk menikmati keasrian alam, namun mereka pula yang membawa perusak keasrian tersebut.

Banyak foto sampah di titik lainnya, tapi gak enak aja diposting di website ini.
Masalah sampah di Bukit Anak Dara bukan sekadar masalah estetika. Ini adalah masalah ekologis yang serius. Sampah-sampah plastik ini jika dibiarkan akan hancur menjadi mikroplastik yang meracuni tanah subur Sembalun. Selain itu, bau yang ditimbulkan dari sampah organik yang tidak dikelola dengan benar mulai mengganggu kenyamanan. Plus sampah ini merusak estetika ketika mengambil foto maupun video.
Kesadaran pendaki tampaknya masih menjadi tantangan terbesar. Banyak yang menganggap bahwa dengan membayar tiket masuk, mereka telah membeli hak untuk membuang sampah sembarangan, seolah-olah biaya tersebut sudah termasuk layanan "petugas kebersihan gunung". Melihat kondisi ini, diperlukan langkah konkret yang lebih dari sekadar imbauan. Pengelola kawasan dan pemerintah daerah perlu memperketat pengawasan. Sistem check-in dan check-out barang bawaan pendaki yang berpotensi menjadi sampah harus diberlakukan secara ketat, sebagaimana yang mulai diterapkan di Taman Nasional Gunung Rinjani. Namun, di atas semua regulasi itu, yang paling dibutuhkan adalah pergeseran paradigma. Mendaki gunung atau bukit bukan sekadar ajang pamer foto di media sosial atau menaklukkan ketinggian. Mendaki adalah proses belajar tentang kerendahan hati dan tanggung jawab.
Bukit Anak Dara adalah warisan alam yang tak ternilai harganya bagi masyarakat Lombok dan dunia. Ia memberikan oksigen, pemandangan, dan sumber penghidupan bagi warga lokal. Sangat tidak adil jika kita membalas kemurahan hati alam ini dengan tumpukan limbah yang merusak.
Perjalanan turun dari Anak Dara terasa lebih berat. Bukan karena jalur yang curam, tapi karena beban pikiran melihat plastik-plastik yang terjepit di antara akar pohon. Jika perilaku ini tidak berubah, kelak kita mungkin tidak lagi menjemput matahari di atas bukit yang asri, melainkan di atas gundukan sampah yang kita ciptakan sendiri. (*)