TCC Nipah : Dari Pemburu Telur Penyu jadi Nominator Kaplataru
Turtle Conservation Community (TCC) Nipah adalah komunitas di Dusun Nipah, Desa Malaka, Kabupaten Lombok Utara yang berjuang dalam upaya konservasi penyu di Pantai Nipah. Dulu dikenal sebagai sumber penjualan telur penyu, daging penyu, dan aktivitas pengeboman ikan. Kini berkembang menjadi daerah wisata dengan kekhasan kuliner ikan bakar. TCC Nipah telah menyelamatkan kurang lebih 30 ribu butir telur penyu dan belasan ribu tukik sudah dilepas. Berkat kegiatan ini, TCC Nipah masuk sebagai nominator penerima kalpataru kategori penyelamat lingkungan tahun 2024.
****
Jumat malam (17/5/2024) tiga orang wisatawan mancanegara mengendap di kegalapan malam di Pantai Nipah, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Mereka membawa senter, tapi selalu diingatkan untuk mematikan lampu senter. Cahaya lampu dari sebagian warung di pesisir pantai itu cukup menerangi. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik dengan pemuda yang menemani mereka malam itu, para relawan Turtle Conservation Community (TCC) Nipah. Sesekali berhenti, duduk istirahat, mengobrol tentang aktivitas TCC Nipah. Termasuk juga cerita-cerita perburuan telur penyu yang pernah mereka lakukan.
Salah satu tim melihat garis di pasir, memanjang dari arah batas air laut. Mengarah ke daratan. Sambil berbisik, dia mengabari jika itu kemungkinan penyu yang sedang naik ke daratan untuk bertelur. Melihat arah garis di pasir, sudah dipastikan itu penyu. Seperti seorang detektif, Among, salah seorang anggota Turtle Conservation Community (TCC) Nipah mengendap layaknya detektif. Dia bergerak terlebih dahulu, memastikan memang benar ada penyu. Dia juga perlu memastikan penyu itu sudah selesai bertelur. Jangan sampai kedatangan mereka mengagetkan penyu yang sedang bertelur.
Among berhenti di sebuah titik yang terlihat acak, menyusul tim yang lainnya. Di lokasi ini sepertinya baru saja ditinggalkan induk penyu. Di titik tersebut terlihat bekas galian lubang, tapi jumlahnya lebih dari satu. Induk penyu memang sengaja melakukan itu untuk mengelabui predator agar tidak tahu di mana lokasi lubang bertelur yang sebenarnya.
“Ketika sampai induknya sudah pergi, kami bisa selamatkan telurnya sebanyak 102 butir,’’ kata Among, Sabtu (18/5/2024).
Cerita penemuan telur penyu itu menjadi cerita tiga orang wisatawan asing itu. Keesokan harinya, pada malam hari datang lagi wisatawan asing dari Inggris. Seperti pada malam sebelumnya, mereka kembali menelusuri garis Pantai Nipah sepanjang 23 km itu. Tapi malam itu mereka belum beruntung, hingga kelelahan belum juga bertemu lubang bertelur. Atau bisa saja ada penyu yang mendarat, tapi luput dari pantauan mereka.
Selama dua tahun ini, nama TCC Nipah semakin dikenal di kalangan wisatawan. Penyebabnya, tahun lalu kemunculan dugong atau duyung di perairan Nipah cukup ramai diberitakan. Setelah bertahun-tahun tidak pernah muncul, tiba-tiba dua ekor dugong muncul, mencari makan, dan tidak jauh dari bibir pantai. Beberapa orang nelayan bertemu langsung dengan dugong itu. Begitu juga warga yang snorkeling bisa mendokumentasikan dugong itu. Sejak saat itu setiap akhir pekan, selalu ada orang datang menanyakan dugong. Jika sebelumnya orang datang hanya sekadar bermain di pantai dan menikmati kuliner ikan bakar, sekarang mereka rutin bertanya tentang dugong. Setelah kemunculkan dugong itu, nelayan di Nipah kembali dikejutkan dengan kemunculan hiu paus. Awalnya mereka takut dengan ikan berukuran jumbo, yang lebih besar dibandingkan perahu mereka itu. Tapi melihat ikan itu terlihat jinak, para nelayan itu malah mendokumentasikan lebih dekat. Video itu menyebar, dan keesokan harinya ramai orang datang ke Nipah. Tepatnya di sekretariat TCC Nipah.
“Kalau dugong kami sudah mulai paham polanya, kalau hiu paus itu baru pertama kali muncul. Apakah memang di sini pernah jadi habibatnya atau sekadar lewat,’’ kata Ketua TCC Nipah Fikri.
Peristiwa lainnya di akhir tahun 2023, tiba-tiba nama TCC Nipah muncul dalam publikasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI sebagai salah satu nominator penerima kalpataru. TCC Nipah masuk sebagai nominator dalam kategori penyelamat. Terkejut, terharu, bangga bercampur menjadi satu. Tiba-tiba semua orang yang sebelumnya tidak dikenal datang ke TCC Nipah.
“Berkat itu juga semakin ramai orang ke sini. Kami senang karena banyak yang peduli dengan konservasi,’’ kata Fikri.
Masa kecil Fikri hingga remaja sering ikut mencari telur penyu di Pantai Nipah
Pemburu Penyu dan Telur Penyu
TCC Nipah secara resmi berdiri tahun 2018, tapi jauh sebelum itu sudah ada aktivitas konservasi yang dilakukan anak-anak muda Pantai Nipah. Sebelum ada TCC Nipah, kawasan Pantai Nipah ini dikenal sebagai daerah pendaratan penyu bertelur. Ketika musim bertelur, ratusan telur penyu dikmumpulkan warga sekitar. Telur-telur itu dijual ke pasar atau ditawarkan ke sesama warga. Harga telur penyu yang lebih mahal dibandingkan telur ayam membuat perburuan telur penyu semakin marak. Awalnya mengambil jika kebetulan bertemu langsung induk yang sedang bertelur. Belakangan warga secara khusus keliling malam hari untuk mencari telur penyu.
Saat yang sama, geliat pariwisata di Pantai Nipah mulai berkembang. Pada tahun 2012 Nipah mulai dikenal sebagai lokasi kuliner ikan.Semakin lama semakin berkembang. Pada tahun 2015 sebagian besar garis Pantai Nipah sudah menjadi lokasi lapak kuliner ikan, begitu juga di pinggir jalan. Pemerintah Kabupaten Lombok Utara mempromosikan Nipah sebagai pusat kuliner ikan bakar. Saat yang sama aktivitas berburu telur penyu tetap dilakukan. Pada tahun 2018 itu saya pernah bertemu langsung dengan nelayan yang mendapat banyak telur penyu yang akan dijual.
“Kalau lama-lama diambil bisa habis, maka kami mulai untuk ikut mencari tapi kemudian buatkan penangkaran,’’ kata Fikri.
TCC kemudian terbentuk, salah satu program mereka mendekati warga yang mendapatkan telur penyu. Tidak mudah karena itu salah satu sumber pendapatan mereka. Salah satu strateginya membagi telur yang didapatkan, sebagian diambil warga, sebagian dipelihara TCC Nipah. Pola ini terus dilakukan selama dua tahun. Hasilnya, semakin banyak warga yang datang sukarela menyerahkan telur penyu ke TCC Nipah.
Selain mencari telur penyu, sebagian warga juga ada yang mencari penyu. Daging penyu itu dijual dan dikirim hingga ke Pulau Bali. Ketika masih remaja, Fikri pernah ikut mencari penyu untuk dijual. Tapi setelah mulai ramai pariwisata dan semakin banyak informasi konservasi penyu, aktivitas perburuan penyu itu berhenti. Sementara perburuan telur penyu masih berlanjut hingga 2018.
“Memang lama prosesnya, untung banyak pihak yang membantu kami sehingga bisa seperti saat ini,’’ kata Fikri.
Sampai saat ini, dalam catatan TCC Nipah kurang lebih 30 ribu butir telur penyu yang pernah dikumpulkan. Dari jumlah itu belasan ribu ekor tukik dilepas. Pelepasan tukik ini bukan semata menjadi aktivitas wisata, tapi rutin dilakukan oleh anggota TCC Nipah jika merasa tukik sudah siap dilepas.
Nipah jadi spot wisata favorit wisatawan lokal terutama pada akhir pekan
Ekowisata Bahari Nipah
Kegiatan konservasi penyu yang dilakukan TCC Nipah beriringan dengan aktivitas wisata di Pantai Nipah, yaitu snorkeling, bermain kano, berenang dan kuliner ikan bakar. Anggota TCC Nipah sebagian membuka usaha kuliner ikan bakar, ada juga penyewaan alat snorkeling. Termasuk juga jadi pemandu wisata sekitar Pantai Nipah dengan naik perahu. Anggota yang memiliki sertfikat selam menjadi pemandu selam.
Pada Oktober 2019, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara mengeluarkan SK penetapan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Penyu seluas 32,5 Ha di Pantai Nipah. TCC Nipah pun mulai berkembang. Mereka membangun bak penangkaran penyu yang sudah menetas. Bak penangkaran yang dulunya hanya berupa kolam semen sederhana, kini menjadi sebuah bangunan semi permanen dengan kolam yang semakin bagus. Selain itu salah satu BUMN juga memberikan bantuan mesin penetasan telur penyu. Mesin itu lebih efektif dibandingkan dengan menetaskan di dalam pasir. Hanya saja butuh pemantauan rutin tiap saat dan membutuhkan listrik.
Jika kembali mengingat perjalanan TCC Nipah, Fikri merasa berkah pariwisatalah yang memberikan perubahan di Nipah. Dulu Nipah hanya sebagai daerah yang dilewati oleh wisatawan dari Senggigi yang hendak ke Gili Trawangan. Kemudian berkembang beberapa titik penyebarangan di sekitar Desa Malaka. Nipah saat itu masih menjadi pantai kosong, yang hanya dikunjugi pada musim liburan.
Seiring berkembangnya wisatawan lokal, Nipah mulai ramai. Wisatawan datang liburan, disambut warga yang berjualan. Semakin lama semakin berkembang, hingga menjadi ramai seperti saat ini. Perlahan aktivitas yang merusak lingkungan seperti penangkapan penyu, perburuan telur penyu, dan pengeboman ikan juga berkurang dan perlahan hilang. Beberapa warga yang dulu pernah menjadi pelaku yang merusak, kini bisa hidup dari sektor pariwisata.
“Harapan kami pada pemerintah agar Nipah ini tetap dipertahankan dengan ekowisata bahari,’’ kata Fikri.
Ada kekhawatiran Fikri jika kemudian Nipah diberikan kepada investor untuk membangun. Pada tahun 2022 lalu ada pengalaman tidak mengenakkan yang dialami TCC Nipah. Mereka disomasi oleh pihak pemilik tanah di Pantai Nipah. Tanah yang berada di sepanjang Pantai Nipah sebenarnya sudah menjadi milik investor sejak puluhan dan belasan tahun silam. Dibiarkan menganggur, lalu perlahan diisi oleh aktivitas wisata. Fikri merasa nama TCC Nipah yang semakin besar, ada dukungan untuk kegiatan konservasi, sehingga pemilik tanah merasa TCC Nipah tidak minta izin dan menyerobot lahan.
TCC Nipah menjadi lokasi belajar berbagai kegiatan konservasi
“Padahal kami hanya memanfaatkan garis pantai yang menjadi ruang publik,’’ katanya.
Belajar dari pengalaman gempa dan covid-19, di kawasan pesisir Desa Malaka yang banyak dibangun akomodasi pariwisata banyak yang tiarap. Bahkan salah satu hotel besar disegel Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru-baru ini karena menunggak pajak. Selain itu ada juga proyek villa dan hotel yang mangkrak. Tidak sedikit juga yang sudah jadi, tapi ditinggal seperti hantu.
Sementara kegiatan ekowisata di sepanjang pantai Desa Malaka, salah satunya Pantai Nipah semakin berkembang. Ketika akhir pekan, perputaran uang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Semua pelaku usaha itu adalah masyarakat sekitar. Mereka mulai merasakan berkah dari pariwisata. (*)
Berita asli artikel ini bisa dilihat di :
https://mongabay.co.id/2024/06/04/tcc-nipah-dari-pemburu-telur-penyu-jadi-nominator-kalpataru/
Artikel Favorit Untuk Anda
Kawasan SAMOTA Ditetetapkan Sebagai Cagar Biosfer Dunia