Cara Nelayan Labuhan Sangoro Sumbawa Menyelamatkan Ikan dengan Gerai dan Gotong Royong
Di pesisir Teluk Saleh, laut bukan sekadar bentang biru yang memisahkan pulau-pulau. Ia adalah dapur, ruang kerja, sekaligus masa depan bagi ribuan nelayan yang menggantungkan hidup pada ikan karang seperti kakap dan kerapu. Namun beberapa tahun lalu, laut yang dulu melimpah mulai terasa “sunyi”.
“Dulu sekali turun, hasilnya banyak. Sekarang makin berkurang,” kata Amiluddin, yang akrab disapa Deris, seorang nelayan dari Desa Labuhan Sangoro, Kecamatan Maronge, Kabupaten Sumbawa.
Penurunan hasil tangkapan itu bukan sekadar perasaan. Berbagai kajian menunjukkan populasi ikan karang di beberapa wilayah Indonesia mengalami tekanan akibat penangkapan berlebih dan praktik destruktif. Di Teluk Saleh, nelayan merasakannya lebih dulu, bahkan sebelum istilah “overfishing” menjadi diskusi umum. Alih-alih menyerah, sebagian nelayan memilih jalan lain: berorganisasi dan menjaga lautnya sendiri.
Deris
Dari Keresahan Menjadi Gerakan
Pada 2020, Deris bersama sejumlah nelayan membentuk kelompok bernama Kakap Merah Sumbawa (KMS). Bagi mereka, kelompok ini bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan ruang belajar bersama tentang bagaimana memanfaatkan laut tanpa merusaknya.
“Tidak semua masyarakat sadar lingkungan. Jadi kami ingin memberi contoh,” ujarnya.
Kesadaran itu tumbuh dari pengalaman langsung. Ketika hasil tangkapan menurun, biaya melaut tetap sama bahkan cenderung meningkat. Jika dibiarkan, bukan hanya pendapatan yang terancam, tapi juga keberlanjutan sumber daya itu sendiri.
Dalam perjalanannya, kelompok ini mendapat pendampingan dari Wildlife Conservation Society (WCS). Bersama-sama, mereka mulai mengenal konsep kawasan konservasi berbasis zonasi. Di dalam sistem ini, laut dibagi ke dalam beberapa zona: zona pemanfaatan, zona pemanfaatan terbatas, dan zona inti atau “zona merah” yang tidak boleh disentuh aktivitas penangkapan.
Bagi sebagian nelayan, konsep ini awalnya terasa asing—bahkan menimbulkan kecurigaan.
“Banyak yang belum paham. Dikira kalau ada zona larangan, berarti kita kehilangan tempat mencari ikan,” kata Deris. Padahal, menurutnya, justru sebaliknya.
nelayan pulang melaut
“Rumah Ikan” yang Tak Boleh Diganggu
Zona inti dalam kawasan konservasi sering dianalogikan sebagai “rumah ikan”. Di tempat inilah ikan berkembang biak, bertelur, dan tumbuh tanpa gangguan.
“Kalau diibaratkan, seperti ember diisi air. Kalau penuh, dia akan meluber ke mana-mana,” ujar Deris.
Air yang meluber itu adalah ikan-ikan yang kemudian menyebar ke zona pemanfaatan, tempat nelayan diperbolehkan menangkap. Dengan kata lain, zona inti menjadi sumber kehidupan bagi wilayah sekitarnya.
Konsep ini dikenal luas dalam ilmu konservasi sebagai “spillover effect”. Namun bagi nelayan Teluk Saleh, pemahaman itu tidak datang dari buku, melainkan dari pengalaman dan dialog panjang.
Yang menarik, penentuan zona inti tidak dilakukan sepihak. Prosesnya melalui konsultasi publik, melibatkan nelayan, tokoh masyarakat, dan pihak pendamping.
“Bukan keputusan satu orang. Semua dilibatkan,” kata Deris.
Pendekatan partisipatif ini menjadi kunci. Tanpa keterlibatan masyarakat, aturan konservasi sering kali hanya menjadi dokumen tanpa daya.
rumah di pesisir membuat rentan dengan bencana
Melawan Kebiasaan Lama
Salah satu tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan lama, termasuk praktik penangkapan destruktif seperti pengeboman ikan. Beberapa tahun lalu, praktik ini masih ditemukan di Teluk Saleh. Selain merusak terumbu karang, cara ini juga menghancurkan habitat ikan dalam jangka panjang.
Kini, menurut Deris, aktivitas itu mulai berkurang. “Alhamdulillah sudah jauh berkurang,” katanya.
Penurunan ini bukan hanya karena kesadaran nelayan, tetapi juga hasil kolaborasi berbagai pihak. Kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas), aparat kepolisian perairan, dan dinas terkait turut terlibat dalam patroli dan pengawasan.
Namun menjaga laut tentu membutuhkan biaya. Di sinilah kreativitas kelompok nelayan diuji.
‘Gerai Nelayan’: Toko Kecil, Dampak Besar
Untuk menopang kegiatan kelompok sekaligus mendukung konservasi, KMS membangun sebuah unit usaha bernama “gerai nelayan”.
Secara sederhana, gerai adalah toko kebutuhan nelayan yang menjual sembako, alat pancing, tali, hingga perlengkapan melaut lainnya. Di wilayah pesisir yang jauh dari pusat kota, kehadiran gerai menjadi solusi penting.
“Sebelumnya, kalau mau beli kebutuhan harus ke kota. Butuh biaya tambahan,” ujar Deris.
Dengan adanya gerai ini, nelayan bisa mendapatkan kebutuhan lebih dekat dan murah. Tak hanya itu, mereka juga menggandeng lembaga perbankan untuk memudahkan transaksi, termasuk pengiriman uang bagi keluarga.
Namun yang paling menarik adalah bagaimana keuntungan dari gerai digunakan.
Sekitar 30 persen dari laba disisihkan untuk mendukung kegiatan konservasi, terutama pengawasan kawasan. Dana tersebut kemudian dikelola bersama dengan pendamping, termasuk untuk membiayai patroli laut yang dilakukan oleh pokmaswas.
“Jadi bukan hanya jaga di lapangan, tapi juga kami bantu dari sisi anggaran,” kata Deris.
Model ini menunjukkan bahwa konservasi tidak harus selalu bergantung pada dana luar. Masyarakat bisa menciptakan mekanisme pembiayaan mandiri, selama ada kepercayaan dan transparansi.
gerai nelayan Labuhan Sangoro
Ekonomi dan Ekologi Berjalan Bersama
Apa yang dilakukan kelompok KMS menunjukkan bahwa ekonomi dan ekologi tidak harus saling bertentangan. Dengan menjaga kawasan tertentu, nelayan justru berharap hasil tangkapan di masa depan akan lebih stabil. Sementara itu, melalui gerai nelayan, mereka tetap memiliki sumber pendapatan tambahan.
Pendekatan ini juga mengurangi tekanan terhadap laut. Ketika kebutuhan ekonomi sebagian ditopang oleh usaha darat, ketergantungan penuh pada hasil tangkapan bisa dikurangi.
Di sisi lain, keberadaan kelompok juga memperkuat posisi tawar nelayan dalam berbagai program.
“Kalau sendiri-sendiri, susah. Tapi kalau kelompok, kita bisa bergerak bersama,” ujar Deris.
lapuk
Tantangan Masih Ada
Meski berbagai kemajuan telah dicapai, tantangan tetap ada. Tidak semua nelayan langsung menerima konsep konservasi. Sebagian masih membutuhkan pendekatan dan edukasi berkelanjutan.
Selain itu, faktor eksternal seperti perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan tekanan pasar juga mempengaruhi kehidupan nelayan.
Namun pengalaman di Teluk Saleh menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah—dari komunitas yang merasakan langsung dampaknya.
Kunci lainnya adalah konsistensi. Konservasi bukan program jangka pendek. Ia membutuhkan komitmen bertahun-tahun, bahkan lintas generasi.
rumah panggung nelayan Labuhan Sangoro
Harapan dari Pesisir
Bagi Deris, harapan ke depan sederhana namun mendalam: laut tetap memberi kehidupan. “Mari kita sukseskan konservasi. Tujuannya kembali ke kita,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan tentang konservasi.
“Kadang ada yang bilang konservasi itu merugikan. Padahal tidak. Ini untuk masa depan kita,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan, kisah nelayan Teluk Saleh menjadi contoh bahwa menjaga alam tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Ia bisa tumbuh dari kesadaran sederhana: bahwa jika laut rusak, semua akan terdampak.
Dari sebuah kelompok kecil, dari sebuah toko sederhana bernama gere, hingga patroli laut yang didanai gotong royong—semuanya menunjukkan satu hal: perubahan itu mungkin. Dan di Teluk Saleh, perubahan itu sedang berlangsung.
Pengambilan video bang Deris
Disclaimer :
Kami mencoba memanfaatkan AI untuk menyusun naskah cerita ini, tentu saja setelah mencoba beberapa kali. Seluruh kutipan dari wawancara ini benar, begitu juga alur pertanyaan dalam wawancara ini kami lakukan. Dari video dan rekaman suara, kami meminta AI untuk menyalin jadi teks. Kami mengecek, memastikan tidak ada yang keliru, menyusun kembali, dan meminta AI untuk membuat artikel. Di era AI ini, kerja-kerja menulis artikel terasa mudah, menjadi tantangan bagi jurnalis untuk menghasilkan karya yang bisa melampaui hasil AI. Jika anda membaca cerita ini seperti mengalir, tentu saja itu dimulai dari proses menyusun daftar pertanyaan ketika kami melakukan wawancara. Saya sendiri (fathul) masih tetap menulis “manual” dalam menulis karya jurnalistik untuk diterbitkan di beberapa media, karena ada sensasi sendiri ketika menyalin teks dalam buku tulis ke dalam kalimat di word, dan merangkai menjadi sebuah cerita.
(Fathul,Yusri, Majdi)
Artikel Favorit Untuk Anda