Budaya

Cupak Gerantang, Dari Dongeng Tidur Hingga Pentas Jalanan

Hero Image

Tjoepak bebeling : ‘’ Adi’ Gerantang, tain apa ? / meni bele’ penoempoekna mara’ gili ? / ‘’ Ia mene’ tain Limandaroeng ‘’ / Lo’ Tjoepak gigit perangenna / peno’ sedo’ gigi ngerejot soegoel daoer / ‘’ Doeh mas mirah adi’ Gerantang, ente pada oele’ malik ‘’

 

***

 

Sebait syair di atas merupakan penggalan cerita Cupak – Gerantang yang sering di dongengkan para ibu-ibu pada anaknya sebelum tidur. Dalam dialog di atas, si Cupak bertanya pada adiknya Gerantang. Cupak menanyakan kotoran apa yang besarnya seperti gili (pulau kecil). Gerantang lalu menjawab itu kotoran Limandaroeng (raksasa). Mendengar jawaban sang adik, Cupak pun langsung kecut hatinya, takut dan meminta untuk kembali.

 

Sebait syair itu adalah cerita paling terkenal dan menggambarkan sosok Cupak yang penakut, ketika dua bersaudara ini diutus raja untuk mencari putri raja yang diculik oleh raksasa. Pada akhir cerita putri raja ditemukan, namun berkat akal liciknya raja percaya kalau yang berjasa adalah Cupak. Namun dalam proses perjalannya, akal bulus Cupak diketahui. Terakhir dia bertarung dengan adiknya Gerantang. Cerita pun berakhir dengan bahagia. Gerantang menang. Kebaikan selalu menang melawan kejahatan.

 

Itu adalah dongeng yang paling terkenal dalam cerita Cupak – Gerantang. Masa kecil saya di sebuah perkampungan di Lombok Timur, cerita Cupak ini biasa kami dengar. Sesekali dalam acara nyongkolan (arak-arakan pengantin), tokoh Cupak dengan topengnya yang seram itu ikut mengiringi. Sekadar menghibur atau juga menakuti para penonton.

 

Dituturkan dari mulut ke mulut, menjadi dongeng sebelum tidur dan kadang kala menjadi hiburan pada acara-acara tertentu. Paling sering acara kawinan, sebelum digusur oleh musik modern.

 

Sebait dialog di atas adalah petikan dari naskah Cupak dalam Tembang Pangkoer (Kedua ) syair 42. Dialog diatas merupakan petikan dari Lelampan Cupak No 10090 yang ditemukan di Dasan Reban – Suralaga ( Lombok Timur) pada tanggal 21 Oktober 1940. Kemudian cerita itu ditulis oleh L Muhammad Arifin pada tanggal 10 Juni 1941.

 

‘’Arifin saat itu sebagai pembantu dari DR C Hooykaas, yang menemukan naskah Cupak,’’ kata Ahma YD, salah seorang budayawan Lombok, yang juga menyimpan fotokopi naskah tersebut.

 

Cerita Cupak memang sudah begitu merakyat di masyarakat Lombok (Sasak), sampai-sampai cerita Cupak ini dianggap sebagai ‘’orisinil’’ dari cerita Sasak. Padahal Lelampan Cupak ini merupakan sebuah improvisasi pada Lakon Panji yang terkenal di Jawa, khususnya Jawa Timur. Dalam proses improvisasi itu, cerita Cupak ini kemudian mengakar kuat di masyarakat Sasak.

 

Proses ‘’penemuan’’ Lelampan (Lakon) Cupak ini cukup panjang. Berawal dari invasi kerajaan Bali ke Lombok pada tahun 1800-an, saat itu para penguasa dari Bali mengumpulkan harta ‘’kebudayaan/kesenian’’ milik orang Sasak dari berbagai daerah. Ada yang mengumpulkan keris, prasasti, informasi-informasi sosial, piagam, dan salah satunya adalah naskah-naskah dari cerita rakyat. Seluruh barang yang diambil itu lalu dikumpulkan di Puri Cakra.

 

Pada tahun 1879, ahli sastra Jawa berkebangsaan Belanda HN Vander Tuuk yang tinggal di Bali berkunjung ke Lombok. Saat itu dia melihat naskah-naskah yang terkumpul itu. Naskah itu tersimpan di Puri Cakra.

 

Lima tahun kemudian setelah kedatangan Vander Tuuk itu, Belanda menduduki Lombok. Saat kedatangan Belanda inilah yang kemudian turut menyebarluaskan naskah-naskah Sasak. Naskah-naskah itu juga disimpan oleh Belanda, hinga sekarang.

 

Selain disimpan di lembaga Kirtya (tempat penyimpanan naskah yang ada di Singaraja, Bali), beberapa naskah itu menjadi koleksi pribadi para perwira, sarjana sastra, pejabat Belanda. Beberapa orang diantaranya adalah Engelenbergh AJN, LC Heyting, Brandes, dan Scherer.

 

Naskah Cupak sendiri ‘’ditemukan’’ oleh DR C Hooykaas pada tahun 1937 yang melakukan kajian potensi kesusastraan Lombok. Dalam melakukan kajian itu, sastra lisan yang berkembang di Lombok kemudian ditulis ulang. Naskah Cupak adalah salah satunya yang kini tersimpan di Le Meyur, Bali. Di Leiden Belanda, sudah pasti.

 

Cerita Cupak – Gerantang adalah cerita hitam – putih yang melekat dari dua bersaudara Cupak (kakak) dan Gerantang (adik). Cupak menyimbolkan sosok curang, jahat, serakah dan segala macam kejahatan. Berbeda dengan Gerantang yang kebalikannya. Itulah sebabnya dalam visualisasi dalam bentuk teater, Cupak secara pisik ditunjukkan seorang yang kuat makan (rakus), perut buncit, tampang jelek. Berkebalikan dengan Gerantang yang gagah dan baik.

 

 

------------------------------------------------------

 

 

CUPAK adalah sebuah pertunjukan rakyat. Drama yang dipentaskan di setiap momen besar di masyarakat, di saat hari-hari besar, dan yang paling sering ketika ada hajatan. Pertunjukan Cupak menghibur para tamu pengantin yang datang, pertunjukan Cupak menghibur anak-anak yang akan disunat pada keesokan paginya. Pertunjukan Cupak menjadi pertunjukan favorit saat peringatan HUT RI setiap tanggal 17 Agustus.

 

‘’Kalau ada orang rowah (pesta) kami selalu diundang untuk menghibur,’’ kata Raden Aryadi, salah seorang pemeran Cupak dalam kelompok teater – kesenian Cupak dari desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

 

Dalam kelompok teater – kesenian Cupak Gerantang, ada dua tokoh sebagai pemain, Cupak dan Gerantang. Selain itu adalah kelompok musik pengiring. Cerita Cupak dan Gerantang memang sudah baku, perjalanan untuk mencari putri cantik jelita yang diculik oleh raksasa jahat. Semua orang sudah menebak jalan ceritanya. Selain itu, tentu saja ada tokoh tuan putri, raja, para punggawa, prajurit. Dalam perkembangannya, dimasukkan juga tokoh “baru” seperti Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol. Dua tokoh inilah yang biasa mengocok perut penonton dengan ucapan, tingkah laku lucu mereka. Dua tokoh inilah yang belakangan banyak berperan menyisipkan cerita di luar cerita utama Cupak – Gerantang.

 

Sebagai sebuah seni pertunjukan, Cupak telah melahirkan kelompok musik yang pada gilirannya akan menghidupkan industri penyedia alat-alat musim pertunjukan Cupak. Pertunjukan ini juga melahirkan tradisi topeng. Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol mengenakan topeng, begitu juga dengan Cupak. Sementara pemain lainnya, tidak mengenakan topeng.

 

Sebagai sebuah pertunjukan, kelompok Cupak – Gerantang ini juga memiliki komponen seperti di kelompok teater modern. Ada produser, penata panggung, penata musik. Hanya sutradara lah yang tidak nampak, para pemain langsung menjadi sutradara. Pada era ketenarannya pertunjukan Cupak menjadi sebuah industri hiburan yang cukup besar dan dikenal masyarakat.

 

‘’Sampai-sampai selesai main kami dikenal sebagai Cupak atau Gerantang, tokoh yang kami perankan,’’ kata Raden Deranto, pemeran Gerantang. (*)


Artikel Favorit Untuk Anda