Jangan Menuntut Buah Jika Akarnya Belum Ditanam
Sebagian orang hari ini ramai menuding Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Songell, tidak bekerja hanya karena belum muncul program Beasiswa S1, S2, dan S3 dari Pemerintah Provinsi.. Kritik ini memang terdengar keras, tapi sejatinya keliru sasaran.. Saya ibaratkan seperti menuntut buah dari pohon yang akarnya belum ditanam dengan benar..
Pendidikan NTB saat ini bukan kekurangan beasiswa, melainkan kekurangan fondasi..
Bayangkan sebuah rumah.. Ada yang berteriak meminta atap yang indah, cat yang mahal, dan keramik yang mentereng.. Padahal fondasinya retak, tiangnya lapuk, dan sebagian ruangannya roboh.. Jika dipaksakan, rumah itu tidak akan megah, ia akan memilih untuk ambruk.. Begitulah wajah pendidikan NTB hari ini..
Dalam sebuah kesempatan Pak Gubernur NTB miQ iQbaL pernah menyampaikan realitas yang tidak bisa dibantah.. Provinsi NTB memiliki 801 SMA/SMK/SLB, dengan 19.013 guru dan ratusan ribu siswa.. Namun daya tampung sekolah masih kurang.. Sebanyak 1.070 ruang kelas baru dibutuhkan, dan lebih parah lagi, 4.104 ruang kelas dalam kondisi rusak.. Ini bukan sekedar angka di atas kertas, tapi ini adalah ribuan anak yang belajar dalam keterbatasan, bahkan ketidaklayakan.

Di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa masih banyak terdapat fasilitas pendidikan yang kurang. Jadi, pemerintah daerah (Kabupaten dan Provinsi) lebih tepat meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan menengah. Jika ini terpenuhi barulah memberikan beasiswa untuk mahasiswa
Lalu kita masih bertanya, "mengapa beasiswa belum menjadi prioritas utama?"
Masalah pendidikan NTB juga seperti sungai yang hulunya tercemar.. Berdasarkan data yang disampaikan oleh "Satu Data NTB" menunjukkan 24,09% anak NTB tidak lagi bersekolah.. Ribuan anak terseret keluar dari sistem pendidikan sebelum sempat bermimpi tentang bangku kuliah.. Di jenjang SMA/SMK saja ada sekitar 2.500 anak putus sekolah, dan di jenjang SD 1.235 anak..
Bayangkan.. Jika hulu ini dibiarkan, maka hilirnya seperti "beasiswa untuk perguruan tinggi" hanya akan mengalir untuk segelintir orang yang sudah selamat dari seleksi alam pendidikan..
Apakah saya mengatakan "Beasiswa itu tidak penting?" Bukan.. Tidak ada yang menyangkal..
Tapi beasiswa adalah hadiah di garis akhir, bukan tiket masuk lomba.. Memberikan beasiswa tanpa memperbaiki daya tampung sekolah, infrastruktur rusak, dan kesenjangan akses sama saja seperti membagikan piala, sementara sebagian besar pelari bahkan tidak pernah sampai ke lintasan..
Di sinilah letak keberanian politik seorang pemimpin diuji.. Mudah membuat kebijakan yang populer dan cepat terlihat.. Jauh lebih sulit membereskan persoalan struktural yang sudah menahun, yang hasilnya tidak langsung bisa dipamerkan..
Ini bukan tulisan untuk menjilat Pemimpin, tapi saya secara pribadi melihat bahwa Pak Gubernur Iqbal memilih jalur kedua, yaitu "menyentuh akar, bukan daunnya"..
Pendidikan tidak bisa dibangun dengan pendekatan kosmetik.. Ia butuh fondasi kuat, yaitu kelas yang cukup, sekolah yang layak, guru yang merata, dan anak-anak yang tidak lagi putus sekolah.. Tanpa itu semua, beasiswa hanya akan menjadi simbol, bukan solusi..
Jadi, jika kritik untuk dunia Pendidikan di NTB boleh saya keluarkan dalam bentuk sebuah pertanyaan, maka "apakah kita ingin pendidikan di NTB terlihat indah di permukaan, atau benar-benar kokoh dari dasar?" Karena sejarah tidak mencatat siapa yang paling cepat membagi beasiswa, tetapi siapa yang membangun fondasi sehingga generasi berikutnya bisa berdiri lebih tinggi..
Artikel Favorit Untuk Anda
TNGR dan Geopark Rinjani Mantapkan Persiapan Pemilihan Putri Rinjani