Jelajah Baturakit Mengenalkan Pangan Lokal dan Obat Keluarga
Di tengah derasnya arus modernisasi dan penetapan gaya hidup serba instan, sebuah gerakan pelestarian lingkungan berbasis komunitas digelar di Desa Baturakit, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Puluhan pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang merupakan representasi Generasi Z dan Alfa di wilayah tersebut, turun ke lapangan untuk melakukan pemetaan partisipatif terhadap potensi pangan lokal dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang kian terlupakan. Kegiatan ini melibatkan Forum Anak Desa (FAD) Baturakit dan FAD Andalan, Minggu (7/6).
Kegiatan ini diinisiasi sebagai respons atas pudarnya pengetahuan tradisional di kalangan remaja. Melalui metode pembelajaran berbasis pengalaman, para peserta diajak keluar dari ruang kelas untuk mengenali kembali kekayaan biodiversitas yang tumbuh di sekitar mereka.
Manajer Konservasi, Mitigasi Bencana, dan Perubahan Iklim Geopark Rinjani, Fathul Rakhman, menyatakan bahwa kegiatan ini sebagai langkah dalam menghadapi ancaman krisis identitas pangan dan dampak perubahan iklim di tingkat tapak.
Peserta jelajah desa mengidentifikasi tanaman pangan lokal
"Desa Baturakit sebenarnya memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat melimpah, sebuah 'apotek hidup' dan lumbung pangan alami yang luar biasa. Namun, potensi ini terancam menjadi harta karun yang terkubur jika tidak ada proses regenerasi pengetahuan kepada generasi muda. Ketika anak-anak muda lebih mengenali produk pangan pabrikan atau obat sintetik ketimbang pangan lokal di pekarangan mereka, kita sedang menghadapi ancaman hilangnya kedaulatan pangan dan kesehatan di masa depan," ujar Fathul.
Keterlibatan aktif remaja dalam memetakan potensi desa bukan sekadar aktivitas pengisian waktu libur, melainkan bagian dari mitigasi berbasis komunitas. Pengetahuan terhadap tanaman lokal yang adaptif terhadap iklim setempat merupakan modal sosial dan ekologis yang penting untuk membangun ketahanan komunitas pedesaan.
Fenomena bergesernya pola konsumsi remaja di perdesaan menjadi perhatian serius banyak pihak. Banyak dari generasi muda saat ini yang tidak lagi familier dengan jenis umbi-umbian lokal seperti talas, atau tanaman herbal berkhasiat obat seperti lempuyang, sambiloto, dan pegagan yang sebenarnya tumbuh subur di pekarangan rumah warga.
Pentingnya pendekatan literasi alam dan edukasi kontekstual berbasis tempat tinggal. Menurutnya, model hafalan tekstual di dalam kelas sering kali gagal membangun ikatan emosional antara anak dengan tanah kelahirannya.

Memetakan hasil jelajah desa
"Melalui kegiatan Jelajah Desa ini, kita sedang mempraktikkan literasi yang hidup. Anak-anak tidak sekadar membaca buku, tetapi membaca alam mereka sendiri. Mereka menyentuh, mengamati, dan berdialog langsung dengan para orang tua di desa mengenai khasiat tanaman tradisional. Ini adalah jembatan komunikasi antargenerasi yang terputus oleh gawai dan modernisasi," katanya.
Kerja sama kelompok yang menggabungkan siswa SMP dan SMA dalam satu tim merupakan formula efektif untuk memicu mentoring sebaya. "Siswa yang lebih tua membimbing adiknya, bersama-sama mewawancarai warga, mencatat, dan menggambar. Ini menumbuhkan kembali kepekaan sosial dan rasa kepemilikan mereka terhadap desa,’’ kata Fathul.
Kegiatan eksplorasi yang berlangsung intensif selama satu hari penuh ini diikuti oleh 20 peserta, dan 10 fasilitator. Ketua pelaksana kegiatan dari Klub Baca Perempuan, Dedi Apyandi menjelaskan bahwa metode yang digunakan diadopsi dari pendekatan ilmiah yang dipadukan dengan pemetaan sosial, yakni exploratory walks dan focus group mapping. "Peserta tidak berjalan secara acak, melainkan menyusuri alur rute terpilih atau transek yang memotong variasi ekosistem desa, mulai dari kawasan pekarangan rumah, kebun komunal, bentangan persawahan, hingga kawasan hutan yang berbatasan dengan batas desa,’’ kata Dedi.
Salah satu nilai tambah utama dari aksi Jelajah Desa Baturakit ini adalah penekanan pada aspek keberlanjutan dan kemanfaatan praktis bagi pemerintah desa. Selama ini, kelemahan mendasar dalam pengelolaan potensi agraria di perdesaan sering kali bersumber dari ketiadaan data visual yang valid mengenai sebaran spasial komoditas tersebut.
Dengan pendekatan pemetaan partisipatif ini, para pelajar tidak diposisikan sebagai objek edukasi pasif, melainkan bertindak sebagai subjek pembangunan atau kontributor data visual.
“ Kita punya belasan tanaman pangan lokal dan belasan jenis tanaman obat keluarga yang berhasil diidentifikasi peserta,’’ katanya.
Pasca-kegiatan ini, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana merawat konsistensi gerakan. Sebagai rekomendasi keberlanjutan, Fathul Rakhman mendorong agar peta visual hasil karya para siswa tersebut segera didigitalisasi dan bisa dituangkan dalam karya buku jelajah maupun buku cerita bergambar. (*)

Presentasi kelompok tidak sekadar membuat peta tapi juga membawa contoh
Mengunjungi salah satu titik mata air yang dimanfaatkan warga

Diskusi dan bekerja bersama anggota kelompok

Melihat kembali hasil pemetaan sebelum presentasi
Artikel Favorit Untuk Anda
Tour de Mawil 2026: Perjalanan Penuh Makna untuk Pelestarian Penyu di Pantai Mawil Sumbawa Barat