Menapak Jejak di Batukliang Utara: Harmoni Alam, Sejarah, dan Budaya di Utara Lombok Tengah
Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah adalah salah satu daerah yang menyimpan kekayaan alam, wisata, dan budaya yang beraneka ragam, sebuah perpaduan antara lanskap alam yang asri, situs sejarah yang sunyi, serta denyut nadi budaya masyarakat Sasak yang masih dijaga dengan sepenuh hati. Perjalanan kolaboratif yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan NTB, Geopark Rinjani Lombok, dan PDAM Lombok Tengah mencoba menelisik lebih jauh potensi-potensi tersembunyi ini, menjelajah kembali narasi-narasi luhur tanah utara, Batukliang Utara, Lombok Tengah.
Jejak Gastronomi Sasak di Peken Balang, Desa Tanak Beak
Setiap Minggu pagi, di Dusun Tanak Beak Barat, Desa Tanak Beak, para pelaku UMKM berjejer rapi. Mereka adalah warga setempat yang menjejerkan berbagai makanan khas Suku Sasak yang autentik dan mulai langka. Di sinilah, sebuah ruang komunal menjelma menjadi surga gastronomi masa lalu yang terasa hidup kembali.
Melangkah menyusuri lapak-lapak Peken Balang, indra penciuman kita langsung disambut aroma jajanan: lupis hingga klepon kecerit yang kenyal, disiram dengan lelehan gula aren yang kental dan taburan kelapa parut segar. Tidak jauh dari sana, para ibu dengan cekatan membungkus pelecing kangkung, serebuk, pencok, hingga betok dan ares dengan racikan bumbu tradisional ragi genep (bumbu lengkap) yang kaya akan perpaduan rempah-rempah resep khas Suku Sasak.
Di bawah lapak beratap ilalang, berbagai kuliner tradisional ini disajikan dengan nuansa desa yang tetap asri. Ini menegaskan bahwa komitmen warga Tanak Beak untuk menjaga alam sama dekatnya dengan menjaga warisan resep leluhur mereka.
Lupis itu manis. Tapi yang lebih manis adalah melihat ibu-ibu itu masih tersenyum menjual masa lalu. Sayang, kita sering datang hanya untuk makan, bukan untuk mengenang. Di Peken Balang, setiap suapan bukan sekadar pengganjal perut untuk sarapan, melainkan sebuah usaha merawat identitas, dan mencicipi jejak gastronomi Suku Sasak yang harus tetap dijaga.

Kayu yang menjadi arang terkubur di bawah tanah di Desa Tanak Beak
Singkapan Tanak Beak: Menguak Misteri Kerajaan Pamatan
Bukan sekadar tanah kosong tanpa penghuni, Singkapan Tanak Beak menjadi bukti geologis sekaligus saksi bagi jejak sejarah kerajaan kuno Pamatan. Ia terkubur akibat dahsyatnya letusan Gunung Samalas, sebuah letusan masif yang melubangi atmosfer, memicu Zaman Es Kecil (Little Ice Age), dan mengacaukan iklim dunia dari Eropa hingga Benua Amerika pada tahun 1257 M.
Pada tiap endapannya, kita dapat membaca stratigrafi, lapisan batuan yang kontras dan jelas, seperti membaca halaman demi halaman buku yang tertimbun lava. Termasuk di sana: fragmen gigi kerbau purba, keramik, hingga sisa-sisa perabotan yang membuktikan bahwa kehidupan pernah tumbuh di tempat ini, sebelum bumi sendiri yang memutuskan untuk menutupnya.
Coba bayangkan: sebuah kerajaan, sebuah peradaban, lenyap dalam satu malam. Bukan oleh perang, bukan oleh pengkhianatan, melainkan oleh gunung yang batuk terlalu keras. Di situlah kita belajar bahwa alam tidak pernah bernegosiasi. Singkapan Tanak Beak adalah perpustakaan alam, situs warisan geologi sekaligus monumen kultural yang menarasikan kekuatan bumi dan sejarah panjang Pulau Lombok.

Kepala Dinas Kebudayaan NTB (tiga dari kanan) saat diskusi di Tanak Beak
Aroma Khas Kopi Telapen, Desa Karang Sidemen
Menjelajahi Batukliang Utara tidak akan pernah lengkap tanpa merasakan kehangatan Kopi Telapen dari Desa Karang Sidemen. Bukan sekadar komoditas, ini adalah produk kopi khas yang telah menjadi identitas, tumbuh langsung dari kesuburan tanah Karang Sidemen dan ketelitian tangan-tangan petaninya.
Keistimewaan Kopi Telapen terletak pada kesetiaan masyarakat lokal dalam merawat biji-biji kopi, dari sejak berbuah hingga tersaji dalam secangkir gelas. Ketelatenan merawat buah dari masa hijau hingga memerah ranum memastikan bahwa setiap sesapan tidak pernah kehilangan karakternya: sebuah cita rasa yang jujur, tebal, dan lahir dari ketulusan hati para petani lokal.
Kopi ini tidak butuh iklan. Ia sudah cukup berbicara lewat asapnya yang tipis di pagi hari, dan lewat para petani yang tidak pernah terburu-buru memetik buah sebelum waktunya, sebuah pelajaran kecil tentang kesabaran yang semakin langka di zaman ini.
Di Desa Karang Sidemen, secangkir Kopi Telapen adalah simbol kehangatan dan jembatan silaturahmi. Menyeruputnya di tengah sejuknya udara desa, ditemani ubi rebus, adalah cara terbaik untuk merayakan hasil bumi sekaligus menghargai dedikasi para petani lokal yang terus merawat denyut nadi ekonomi melalui cita rasa dan karakter khas mereka sendiri.

GM Geopark Rinjani, Qwadru P Wicaksono mencium aroma kopi khas utara Lombok Tengah
Dendang Harmonis Alat Musik Tradisional Cungklik
Petualangan menjelajahi tanah utara ini kemudian disempurnakan oleh alunan nada dari alat musik tradisional Cungklik, sebuah kesenian rakyat yang menyimbolkan kesederhanaan masyarakat agraris di kaki-kaki Gunung Rinjani.
Berbeda dari instrumen modern, Cungklik lahir dari buah kesabaran masyarakat Sasak dalam memilah dan mengeringkan kayu selama setahun lamanya, hingga akhirnya menjadi sebuah instrumen yang utuh. Di masa lalu, instrumen ini adalah teman setia para petani saat menjaga tanaman mereka di sawah, sebuah kidung pelipur lelah di bale-bale gubug setelah seharian bertani atau berkebun.
Melihat Cungklik yang tersusun rapi, dipukul perlahan, lalu menghasilkan nada-nada pentatonisnya yang hangat, kita tersadar: ada jenis keindahan yang tidak bisa dibeli dengan listrik. Keindahan yang lahir dari kayu, dari waktu, dari tangan yang tidak tergesa-gesa.
Cungklik mengingatkan kita bahwa estetika tertinggi Suku Sasak lahir dari ketulusan merawat apa yang telah disediakan oleh alam, bukan dari apa yang bisa dibeli di toko alat musik kota.
Artikel Favorit Untuk Anda
Kawasan SAMOTA Ditetetapkan Sebagai Cagar Biosfer Dunia
Kebakaran di Bima Hanguskan Tujuh Rumah, Kerugian Mencapai Ratusan Juta