Rumah Warisan Leluhur Penyelamat Kala Bencana
Cahaya senja menyapa, menyeruak di balik rimbunnya pepohonan dan rapatnya bangunan rumah di Dusun Kecinan, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Dari ratusan rumah berdinding kalsibot dan beratapkan spandek khas rumah bantuan gempa Lombok, berdiri kokoh beberapa rumah panggung setinggi enam sampai tujuh meter.
Rumah dengan dinding bedek dan atap dari ilalang tersebut milik Inaq Sa’mah (62). Perempuan parobaya yang ditinggal mati suaminya beberapa tahu yang lalu itu. Rumah tersebut merupakan rumah peninggalan almarhum suaminya.
“Rumah ini warisan” ungkapnya.
Nampaknya, hanya rumah Inaq Sa’mah dan tiga bangunan lainnya yang merupakan bangunan tradisional yang masih tersisa di tempat itu. Tempat berteduh yang memiliki keterkaitan yang erat dengan kebudayaan masyarakat setempat.
“Kami nyaman tinggal di sini, tak perlu khawatir,” tambah wanita yang sehariannya masih sanggup berjualan makanan keliling itu.
Mungkin hari ini, tak banyak dari generasi muda tempat itu yang mengenal rumah tradisional semacam itu. Bahkan sebagian dari mereka menganggap rumah seperti itu tak layak untuk dihuni. Nizam (23) adalah salah satunya, ia menganggap rumah panggung dengan ukuran panjang 10 meter dan lebar 7 meter tersebut sudah ketinggalan zaman, tak sesuai dengan perubahan zaman.
“Saya lebih suka rumah seperti ini,” kata Nizam sambil menunjuk salah satu rumah dengan dinding bata dan beratapkan genting.
Tak hanya di Kencinan, di Teluk Kombal, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara juga terjadi hal serupa, bangunan rumah panggung tak banyak terlihat, padahal menurut penuturan salah satu warga, tahun 90-an di tempat itu masih banyak berdiri rumah panggung. Namun setelah tahun 2000-an banyak warga yang merubah bangunan rumahnya seperti saat ini.
Rumah tradisional Sasak lebih adaptif terhadap bencana gempa
Sadrah (64) adalah yang masih menggunakan rumah panggung. Menurutnya rumah panggung bukan saja sekadar bangunan tetapi identitas nenek moyang mereka, sehingga ia merasa berkewajiban menjaga identitas tersebut.
“Rumah panggung ini peninggalan nenek moyang kami,” ungkap pria yang kesehariannya pergi melaut itu.
Ia saat ini tinggal di Dusun Teluk Kombal, tepat di pinggir bibir pantai. Ia tinggal bersama istrinya. Sadrah memiliki lima orang anak, semuanya telah memiliki keluarga masing-masing. Sadrah bersama istrinya tinggal di rumah panggung yang berukuran panjang 7 meter dan lebar kurang lebih 5 meter, dengan dinding bedek dan atap dari spandek. Sepintas terkesan rumah kumuh.
Mitigasi Bencana
Desa Pemenang Barat dan Malaka merupakan dua desa yang memiliki morfologi wilayah yang sama. Diapit oleh deretan bukit dan laut, kedua desa tersebut sangat rentan terhadap bencana alam.Baik yang berasal dari darat semisal gempa bumi, tanah longsor, banjir dan lain-lain, maupun bencana yang berasal dari laut.
Karena memiliki morfologi wilayah yang sama, maka kedua desa tersebut memiliki kearifan lokal serta budaya yang tak jauh berbeda. Bahkan sebelum dipisah menjadi dua desa, keduanya pernah dalam satu wilayah administrasi yaitu Desa Pemenang Barat.
Wujud dari kearifan lokal tersebut tercermin dalam bentuk arsitektur bangunan rumah tradisional. Arsitektur tradisional dibangun oleh masyarakat dilandasi pandangan kosmologi dan simbolisme budaya yang dimiliki.
Pandangan tersebut diwujudkan menjadi tanda dan makna yang tertuang dalam ruang dan bentuk arsitektur. Setiap ruang dan bentuk dimaknai dan dipercayai oleh masyarakat menjadi hal yang baku dan diturunkan ke generasi berikutnya. Salah satu bentuk dari kearifan lokal tersebut adalah bangunan rumah panggung.
Kesadaran budaya yang terwujud menjadi sistem kehidupan, lahir dari pergulatan dinamika kehidupan masyarakat, baik karena dipengerahu faktor sosial, politik dan yang paling penting adalah faktor lingkungan. Di beberapa tempat, faktor lingkungan selalu menjadi faktor dominan pembentukan sistem kebudayaan masyarakat, pun dengan kedua desa tersebut.
Kesadaran masyarakat Pemenang Barat dan Malaka, bahwa tinggal di wilayah seperti itu, melahirkan bentuk arsitektur rumah tradisional yang kita kenal saat ini. Mereka sadar bahwa tinggal di wilayah yang diapit dengan perbukitan dan laut semacam itu, sewaktu-waktu bisa mengancam dalam bentuk bencana. Kesadaran itulah yang mendasari mereka mendisain arsitektur rumah dan tempat tinggal mereka sebagai bentuk mitigasi akibat yang akan ditimbulkan, jika sewaktu-waktu bencana terjadi.
Bagi masyarakat Pemenang Barat dan Malaka yang masih tinggal dan mempertahankan rumah panggung bukan hanya sekadar untuk menjaga warisan keluarga mereka. Tetapi, bagi mereka rumah tersebut merupakan simbol bagaimana nenek moyang mereka pada zaman dahulu berusaha untuk menyatu serta menghormati alam.
Selain memiliki nilai filosofis yang dalam, rumah tradisional tersebut juga merupakan bentuk kesadaran mitigasi nenek moyang mereka terhadap ancaman bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Hal serupa diungkapkan Sugeng Triyadi, Dosen Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pembangunan Institut Teknologi Bandung. Menurutnya sistematika bangunan kerap bersandingan dengan pengetahuan tipografi wilayah.
Ia juga mengungkapkan arsitektur rumah adat sebenarnya telah melalui uji coba alam hingga diterima masyarakat. Proses yang dilalui sehingga menemukan karaktersitik yang sesuai dengan tempat tinggal mereka sangat panjang. Tentu dalam proses yang panjang tersebut berbagai situasi dilalui.
*****
Rumah panggung bebas banjir dan aman ketika terjadi gempa
Inaq Sa’mah teringat lima tahun silam, ketika gempa berkekuatan 7.0 SR yang berpusat di lepas pantai Kabupaten Lombok Utara mengguncang Pulau Lombok pada Agustus 2018. Pada saat itu ia dan almarhum suaminya baru selesai makan malam.
“Saya waktu itu berlari keluar rumah, suami saya masih di dalam,” ungkap Sa’mah
Puluhan rumah di sekitar rumah panggung Inaq Sa’mah roboh, rata dengan tanah.Jeritan tangis dan pekikan takbir menambah suasana horor pada malam itu.
“Saya nangis sambil berlari ke tempat yang lapang,” kenang Inaq Sa’mah.
Kendati puluhan rumah roboh dan rata dengan tanah pada malam itu, namun beberapa rumah panggung masih kokoh berdiri, salah satunya rumah Inaq Sa’mah dan almarhum suaminya. Suami Inaq sa’mah pada saat itu sedang menderita sakit, di saat gempa terjadi ia tak bisa melarikan diri keluar dari rumah.
“Rumah ini yang menyelamatkan suami saya,” kenang Inaq Sa’mah.
Menurut Sugeng, faktor yang menyebabkan rumah tradisional lebih tahan terhadap gempa daripada rumah-rumah modern adalah karena struktur dan material bangunannya yang lentur dan ringan. Kayu pondasi rumah panggung tidak ditanam ke dalam tanah sebagaimana rumah moderen, hal itu membuatnya tahan dan fleksibel ketika terjadi goncangan. Faktor lainnya yang membuat rumah tradisional itu tahan terhadap goyangan adalah penggunaan kayu sebagai material bangunannya. Kayu merupakan material yang lentur, sehingga ketika terjadi goncangan, tak seketika roboh seperti meterial bata atau batako.
Selanjutnya struktur bangunan yang dirangkai dengan pasak yang tidak permanen memungkinkan bangunan rumah tradisional bergerak mengikuti goyangan, sehingga lebih fleksibel.
Selain tahan terhadap gempa, rumah panggung juga tahan ketika terjadi longsor. Karena struktur pondasi kayu yang tidak ditanam sehingga ketika terjadi longsor ia akan mengikuti arah gerakan tanah, hal tersebut memungkinkan bangunan akan tetap berdiri. Bukan hanya terhadap bencana yang berasal dari darat, bencana yang berasal dari laut pun semisal banjir rob, rumah panggung relatif lebih tahan daripada rumah-rumah moderen lainnya.
Rumah Sadrah adalah salah satu buktinya. Saban purnama, air laut di Teluk kombal akan meninggi dan ketika dibarengi dengan ombak pasang makan akan terjadi banjir rob.
Telok Kombal di Pemenang Barat KLU langganan banjir rob. Beberapa rumah masih mempertahankan rumah panggung
Ancaman Rob dan Sesar Naik Flores
Matahari kian terik siang itu, ketika kami tiba di Telok Kombal, perkampungan pinggir pantai yang kini kian terancam. Karena letaknya yang tak jauh dari pantai, kampung ini menjadi langganan banjir rob, ketika air laut naik. Saban purnama, air laut meluap dan menggenangi kampung yang dihuni beberapa puluh kepala keluarga itu.
“Air laut naik pas purnama, tanggal lima belas,” ungkap Sri,ibu dengan tiga orang anak itu.
Dahulu di awal tahun dua ribuan, di tempat itu masih tumbuh rerumputan dan beberapa batang pohon kelapa yang berjejer di sepanjang pantai. Tanah sepanjang perkampungan tersebut masih bisa ditanami berbagai tanaman, seperti tanaman hias dan berbagai jenis tanaman produktif lainnya.
“Kalau dahulu, kami bisa tanam bunga-bungaan dan tanaman lainnya,” ungkap Sri
Sejak awal tahun 2010, air laut pantai teluk kombal mulai meninggi, sedikit demi sedikit bibir pantai menghilang, hingga pemerintah kabupaten lombok utara, membangun tanggul untuk mencegah air laut naik ke area perkampungan.
Namun, tanggul yang dibangun dengan dana ratusan juta rupiah tersebut tak bertahan lama. Entah karena struktur bangunannya yang tak sesuai dengan spesifikasi atau karena air laut yang semakin meninggi, pada tahun 2016 tanggul tersebut runtuh. Hingga hari ini, delapan puluh persen dari area perkampungan tergenang air luat.
“Kalau air laut pasang, air menenggelamkan rumah kami sampai 2 meter. Terpaksa kami mengungsi,” ungkap wanita parubaya penjual jajanan tradisional itu.
Memang, kini kondisi teluk kombal mengkhawaitrkan. Kenaikan air laut yang merupakan dampak dari perubahan iklim ekstrim mengakibatkan teluk kombal seperti kampung di tengah lautan. Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) sebagaimana dilansir majalah National Geograpic edisi Juli 2022, saat ini diperkirakan kenaikan air laut sekitar 3 milimeter per tahun. Sehingga dari tahun ke tahun daratan teluk kombal hilang sedikit demi sedikit.
Bangunan bata dan beton banyak yang roboh oleh gempa 2018
Bukan hanya Telok Kombal tempat-tempat lain di desa pemenang barat dan melaka yang berdekatan dengan bibir pantai akan menghadapi hal yang serupa. Lambat laun, seiring dengan semakin meningkatnya perubahan iklim banjir rob dan berbagai bencana lainnya mengintai dan siap menerkam kapan saja.
Selain ancaman rob, ancaman lainnya datang dari dalam perut bumi, yaitu sesar naik flores. Posisi Pulau lombok, terutama bagian utara yang berada di atas patahan yang dikenal dengan nama Flores Back Arc Thrust. Sewaktu-waktu, patahan tersebut bisa bergerak dan akan mengakibatkan gempa dengan skala yang besar, sebagaimana yang pernah terjadi di tempat yang sama pada tahun 70 an dan teraanyar 2018.
Sesar naik Flores atau Flores Back Arc Thrust merupakan struktur geologi yang terbentuk akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia. Dalam A Dictionary of Geography yang disusun oleh Susan Wayhem, patahan atau sesar (fault) didefinisikan sebagai permukaan yang retak di lapisan kulit bumi sehingga satu blok batuan bergerak relatif terhadap blok lain.
Sejarah mencatat, Sesar naik Flores pernah memicu gempa-gempa besar sejak ratusan tahun lalu. Gempa tertua yang tercatat bermagnitudo 7, mengguncang Bali dan Nusa Tenggara pada 22 November 1815. Gempa tersebut memicu tsunami.
Rob dan gempa bumi adalah sebuah keniscayaan bagi masyarakat Desa Pemenang Barat dan Malaka, tak dapat dihindari tetapi bisa dimitigasi dampak kerusakan yang dihasilkan. Penggunaan rumah panggung tradisional adalah salah satu bentuk kearifan lokal nenek moyang kita untu memitigasi bencana yang mengancam mereka.
Namun disayangkan, kearifan lokal berupa pengetahuan konstruksi bangunan tahan bencana warisan leluhur kita itu, kini tak banyak yang tahu dan paham. Padahal sejarah mencatat, kearifan tersebut yang menyelamatkan mereka dari berbagai bencana di masa lalu. Bencana 2018 salah satu contohnya