Sosialisasi SiAGA NTB : Sumbawa Jadi Prioritas Penguatan Mitigasi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkenalkan Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) SiAGA NTB kepada pemangku kepentingan di Kabupaten Sumbawa sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi ancaman bencana yang dinilai semakin kompleks.
Kegiatan sosialisasi yang digelar di Sumbawa pada Rabu (17/7) itu menjadi momentum penting bagi daerah untuk mengintegrasikan data kebencanaan secara menyeluruh, mulai dari tingkat desa hingga provinsi, demi mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat di saat krisis.
"SIK SiAGA NTB hadir sebagai jawaban atas persoalan fragmentasi data yang selama ini menjadi hambatan utama dalam penanggulangan bencana di daerah kita. Data tidak boleh lagi melekat pada individu, melainkan harus berada dalam sistem yang bisa diakses oleh semua pihak secara real-time," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi NTB Miftahuddin Ansari.
Sistem ini dirancang untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mewajibkan BPBD menyusun dan menginformasikan peta rawan bencana, serta menjamin hak masyarakat untuk mendapatkan informasi kebencanaan secara tertulis maupun lisan.
Pengenalan sistem ini tidak lepas dari gambaran nyata kondisi kebencanaan di Kabupaten Sumbawa. Berdasarkan profil kebencanaan yang disusun khusus untuk wilayah tersebut, Sumbawa menghadapi ancaman berlapis yang mencakup banjir, gempa bumi, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Peta risiko dalam profil kebencanaan menunjukkan bahwa sejumlah kecamatan di Sumbawa berada dalam zona merah ancaman hidrometeorologi, terutama pada musim penghujan. Kondisi topografi yang berbukit dan sebagian besar wilayahnya berupa lahan pertanian dan hutan membuat daerah ini rentan terhadap kejadian banjir bandang dan longsor secara bersamaan.
"Sumbawa bukan hanya berhadapan dengan satu jenis ancaman. Kita bicara soal multi-hazard. Karena itu diperlukan pendekatan yang sistematis dan berbasis data, bukan sekadar respons reaktif setelah bencana terjadi," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sumbawa Sukiman. Dalam profil kebencanaan tersebut juga memetakan kapasitas daerah, termasuk ketersediaan sumber daya manusia, peralatan, dan infrastruktur pendukung kebencanaan yang saat ini masih memerlukan penguatan signifikan di beberapa kecamatan terpencil.

Pembukaan kegiatan sosialisasi SiAGA NTB di Kabupaten Sumbawa
Lima Fitur Andalan SIK SiAGA NTB
SIK SiAGA NTB hadir dengan lima fitur utama yang dirancang untuk menjawab kebutuhan penanganan bencana dari hulu ke hilir. Pertama, Dashboard Bencana yang memungkinkan pemantauan kejadian secara real-time. Kedua, Peta Risiko Bencana yang mendukung perencanaan pembangunan berbasis risiko. Ketiga, fitur Lapor Bencana yang memungkinkan masyarakat melaporkan kejadian secara langsung dan cepat melalui aplikasi mobile. Keempat, Informasi Peringatan Dini khusus bahaya hidrometeorologi. Kelima, Informasi Nomor Penting agar masyarakat dapat segera menghubungi layanan darurat yang dibutuhkan.
Selain itu, sistem ini dilengkapi fitur khusus pra-bencana seperti kajian risiko, sebaran titik Early Warning System (EWS), edukasi bencana, serta pengelolaan Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
"Dengan fitur Lapor Bencana di aplikasi mobile, warga Sumbawa yang berada di daerah terpencil sekalipun bisa langsung melaporkan kejadian ke sistem kita. Informasi itu langsung masuk ke dashboard dan dapat ditindaklanjuti oleh petugas," Made Sastra Widhana, dari BPBD NTB yang menjadi narasumber dalam sosialisasi ini.
Pada fase tanggap darurat, sistem menyediakan peta kejadian bencana, data pengungsian, pencarian korban, hingga distribusi sumber daya secara terkoordinasi. Sementara pada fase pasca-bencana, tersedia layanan data rehabilitasi dan rekonstruksi fisik, layanan kesehatan dan trauma healing, serta pemulihan sektor ekonomi dan lingkungan.
Salah satu filosofi utama yang diusung SIK SiAGA NTB adalah pendekatan Pentahelix, yakni kolaborasi lima komponen utama dalam penanggulangan bencana: Pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan penggerak koordinasi, Masyarakat sebagai pelaku langsung di lapangan, Akademisi sebagai penyedia riset dan inovasi, Dunia Usaha sebagai penyedia logistik dan dukungan ekonomi, serta Media sebagai penyebar informasi dan edukasi publik.
"Bencana tidak bisa ditangani satu pihak saja. Pentahelix bukan sekadar konsep, melainkan mekanisme kerja nyata yang harus kita wujudkan di lapangan, termasuk di Sumbawa," tegasnya.
Sistem ini juga terintegrasi dengan berbagai platform, mulai dari Sistem Informasi Desa (Destana), Sistem Informasi Kecamatan, hingga terhubung ke Sistem Informasi Kebencanaan Nasional milik BNPB melalui mekanisme API integrasi. Data kebencanaan Sumbawa pun akan menjadi bagian dari ekosistem NTB Satu Data yang lebih luas.

Penyampaian materi dari BPBD Kabupaten Sumbawa
Perhatian Khusus pada Kelompok Rentan dan Disabilitas
Hal yang membedakan SIK SiAGA NTB dari sistem serupa adalah adanya fitur khusus untuk kelompok penyandang disabilitas. Sistem ini mampu merekam data disabilitas berdasarkan kategori, ragam hambatan, status ekonomi, ketersediaan pengasuh, hingga peta sebaran dan potensi ancaman bahaya yang dihadapi setiap individu.
"Inklusi bukan pilihan, itu kewajiban. Sistem kami memastikan tidak ada satu pun warga yang terlupakan dalam peta risiko kita, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik maupun kognitif," kata Made.
Kegiatan sosialiasi SiAGA NTB di Sumbawa ini diharapkan menjadi awal dari proses adopsi sistem secara menyeluruh di seluruh perangkat daerah kabupaten. BPBD NTB menargetkan seluruh kabupaten dan kota di NTB telah terintegrasi penuh dengan SIK SiAGA NTB pada akhir tahun ini, dengan Sumbawa sebagai salah satu pilot utama mengingat kompleksitas ancaman bencananya.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa diharapkan segera menunjuk administrator lokal dan mengalokasikan anggaran pendampingan teknis agar sistem dapat beroperasi optimal, terutama dalam mendukung perencanaan mitigasi berbasis risiko yang tercermin dalam Tactical Risk Blueprint yang telah disusun.
"Sistem ini sudah ada, data sedang dibangun, dan regulasinya jelas. Yang kita butuhkan sekarang adalah komitmen semua pihak untuk menggunakannya secara konsisten. Karena bencana tidak menunggu kita siap," katanya. (mmn)
Artikel Favorit Untuk Anda
Jelajah Baturakit Mengenalkan Pangan Lokal dan Obat Keluarga